Minggu, 07 April 2013

Ketidakjujuran Merusak Tatanan Negara


Ketidakjujuran Merusak Tatanan Negara

Keadilan, moralitas, dan kejujuran harus mencakup di semua ruang dan waktu yang dilalui manusia. Benar, terlebih lagi bagi politisi. Katakan saja politisi di sini adalah orang-orang yang bertanggungjawab besar terhadap kesejahteraan bangsanya. Di tangan mereka nasib para golongan kecil ditentukan. Politisi harus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat yang dipimpinnya. Sifat keadilan haruslah tertancap kuat di hatinya, sehingga tidak ada perilaku diskriminasi ketika memutuskan suatu hukum. Moralitas yang mulia harus terpancar dari perilakunya. Harus punya keahlian menentukan prioritas agar tindakan yang berlebihan terhindar.
Saya bingung apakah hati saya mau menangis ataukah marah membaca harapan di atas. Semuanya terasa hanya seperti angan-angan belaka jika melihat kondisi hukum di negara kita. Indonesia yang masih sangat jauh untuk dibilang sebuah negara maju, masih saja mengeksploitasi sumber daya alam secara serakah. Lebih lanjut pemerintah Indonesia tidak merasa rugi (ataukah memang ada motivasi lain) jika sumber daya alamnya dikuasai oleh orang-orang asing yang mendirikan perusahaan-perusahaan mereka di negeri ini. Hak-hak rakyat diraup secara terang-terangan sekaligus secara sembunyi-sembunyi oleh orang-orang yang punya kekuasaan, tanpa memikirkan nasib rakyat yang memeras keringat melawan kemiskinan.

Selasa, 19 Maret 2013

Memperluas Hubungan antar Negara dengan Badan Lembaga Internasional (UNESCO) sebagai Upaya Peningkatkan Pendidikan Wanita dan Remaja

Para petinggi dan tokoh dunia bergabung dalam sebuah forum terkait dengan peningkatan pendidikan perempuan yang diselenggarakan di Paris. Semua itu dibahas PBB, khusunya dewan UNESCO yang bergerak dalam bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan. Keterangan selengkapnya  sebagai berikut : Bankimun (ketua PBB), Erena Bukufa (ketua UNESCO), dan Hillary Clinton (menteri luar negeri AS),  dan Syaikh Hasinah (perdana menteri Bangladesh) menghadiri sebuah forum yang membahas tentang persamaan derajat kaum wanita. Forum tersebut diselenggarakan di Paris, ibukota Prancis. Dalam forum tersebut Erena Bukufa mengungkapkan gagasannya mengenai dinamika baru dalam pendidikan wanita dan remaja.
Pada pembukaan pidatonya, Erena Bukufa menekankan tentang potensi wanita untuk melakukan perubahan dalam dunia global.