Para petinggi dan tokoh dunia bergabung dalam sebuah forum terkait
dengan peningkatan pendidikan perempuan yang diselenggarakan di Paris. Semua itu
dibahas PBB, khusunya dewan UNESCO yang bergerak dalam bidang pendidikan, keilmuan,
dan kebudayaan. Keterangan selengkapnya
sebagai berikut : Bankimun (ketua PBB), Erena Bukufa (ketua UNESCO), dan Hillary
Clinton (menteri luar negeri AS), dan Syaikh
Hasinah (perdana menteri Bangladesh) menghadiri sebuah forum yang membahas
tentang persamaan derajat kaum wanita. Forum tersebut diselenggarakan di Paris,
ibukota Prancis. Dalam forum tersebut Erena Bukufa mengungkapkan gagasannya
mengenai dinamika baru dalam pendidikan wanita dan remaja.
Pada pembukaan pidatonya, Erena Bukufa menekankan tentang potensi
wanita untuk melakukan perubahan dalam dunia global.
“Dewasa ini, banyak fenomena wanita bermunculan ke ranah publik.
Contohnya, di Tunisia, para wanita dari latar belakang yang berbeda melakukan
aksi turun ke jalan untuk menuntut HAM dan penegakan Undang-undang terhadap
kaum wanita. Selain itu, dalam sebuah situs jejaring social (facebook), wanita
menyerukan tentang persamaan derajat. Di belahan dunia lain juga terjadi
demonstrasi besar-besaran, yakni di lapangan Tahrir Cairo. Realita social ini
menyangkal tentang pendapat kebanyakan masyarakat dunia bahwasanya wanita tidak
mampu melakukan perubahan“
Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Erena Bukufa, bahwasanya wanita
merupakan bagian dari roda penggerak dunia. Hal ini yang membuat kaum wanita di
Banglades telah mengajarkan tentang persamaan gender mulai dari pendidikan
dini. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan keadilan social
ditengah masyarakat.
Perdana Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton,
menyerukan agar Elena Bukufa bersungguh-sungguh dalam upaya mewujudkan pendidikan
wanita dan remaja di seluruh penjuru dunia.
Berikut ini
merupakan kisah Hillary Clinton di Pakistan,
“Beberapa tahun lalu, di sebuah desa di Pakistan, saya sedang duduk
bersama beberapa wanita. Kami
berbincang-bincang mengenai pentingnya pendidikan. Salah seorang dari mereka
dengan bangga mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh orang anak (lima perempuan
dan lima laki-laki). Dia mendambakan semua anaknya mendapatkan pendidikan. Beberapa
detik kemudian, sambil menunjuk sebuah bangunan bergenting besar yang telah
dijadikan sekolah, dia bertanya kepadaku, ”apakah
kamu melihat sekolah itu? ketika anak-anak kami selesai sekolah disana, mereka
akan melanjutkan ke tingkat dua. Dan tidak mungkin anak-anak perempuan kami
meninggalkan desa ini karena tidak adanya keamanan” “
Bankimun, selaku ketua umum PBB menyatakan bahwasanya wanita
memiliki potensi dan peluang untuk berpartisipasi terhadap perubahan dunia.
Potensi dan peluang tersebut bisa terwujud melalui pendidikan perempuan dan
remaja yang mengajak untuk memerangi diskriminasi gender. Bankimun berkata, “Forum
perluasan hubungan antar Negara ini akan memusatkan perhatian pada dua poin
penting. Poin pertama ialah pentingnya pendidikan lanjutan dan poin kedua
adalah pemberantasan buta aksara bagi kaum wanita. Hal ini akan memberikan
pengaruh besar yang manfaatnya akan kembali pada individu dan masyarakat. Forum
ini memiliki kewajiban untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Upaya
penyelesaian masalah-masalah tersebut diantaranya ialah pengadaan sekolah bagi
wanita yang masih terbelakang, pembelajaran membaca, menulis, serta berhitung.”
Bankimun menyebutkan bahwasanya ada tiga puluh sembilan juta
penduduk dunia yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar pada usia dini.
Sepertiga diantaranya berasal dari kaum wanita buta aksara. Hal ini membuktikan
adanya fenomena social yang berkaitan dengan diskriminasi terhadap kaum wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar