Selasa, 19 Maret 2013

Memperluas Hubungan antar Negara dengan Badan Lembaga Internasional (UNESCO) sebagai Upaya Peningkatkan Pendidikan Wanita dan Remaja

Para petinggi dan tokoh dunia bergabung dalam sebuah forum terkait dengan peningkatan pendidikan perempuan yang diselenggarakan di Paris. Semua itu dibahas PBB, khusunya dewan UNESCO yang bergerak dalam bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan. Keterangan selengkapnya  sebagai berikut : Bankimun (ketua PBB), Erena Bukufa (ketua UNESCO), dan Hillary Clinton (menteri luar negeri AS),  dan Syaikh Hasinah (perdana menteri Bangladesh) menghadiri sebuah forum yang membahas tentang persamaan derajat kaum wanita. Forum tersebut diselenggarakan di Paris, ibukota Prancis. Dalam forum tersebut Erena Bukufa mengungkapkan gagasannya mengenai dinamika baru dalam pendidikan wanita dan remaja.
Pada pembukaan pidatonya, Erena Bukufa menekankan tentang potensi wanita untuk melakukan perubahan dalam dunia global.
“Dewasa ini, banyak fenomena wanita bermunculan ke ranah publik. Contohnya, di Tunisia, para wanita dari latar belakang yang berbeda melakukan aksi turun ke jalan untuk menuntut HAM dan penegakan Undang-undang terhadap kaum wanita. Selain itu, dalam sebuah situs jejaring social (facebook), wanita menyerukan tentang persamaan derajat. Di belahan dunia lain juga terjadi demonstrasi besar-besaran, yakni di lapangan Tahrir Cairo. Realita social ini menyangkal tentang pendapat kebanyakan masyarakat dunia bahwasanya wanita tidak mampu melakukan perubahan“
Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Erena Bukufa, bahwasanya wanita merupakan bagian dari roda penggerak dunia. Hal ini yang membuat kaum wanita di Banglades telah mengajarkan tentang persamaan gender mulai dari pendidikan dini. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan keadilan social ditengah masyarakat.
Perdana Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, menyerukan agar Elena Bukufa bersungguh-sungguh dalam upaya mewujudkan pendidikan wanita dan remaja di seluruh penjuru dunia.
Berikut ini merupakan kisah Hillary Clinton di Pakistan,


“Beberapa tahun lalu, di sebuah desa di Pakistan, saya sedang duduk bersama beberapa wanita.  Kami berbincang-bincang mengenai pentingnya pendidikan. Salah seorang dari mereka dengan bangga mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh orang anak (lima perempuan dan lima laki-laki). Dia mendambakan semua anaknya mendapatkan pendidikan. Beberapa detik kemudian, sambil menunjuk sebuah bangunan bergenting besar yang telah dijadikan sekolah, dia bertanya kepadaku, ”apakah kamu melihat sekolah itu? ketika anak-anak kami selesai sekolah disana, mereka akan melanjutkan ke tingkat dua. Dan tidak mungkin anak-anak perempuan kami meninggalkan desa ini karena tidak adanya keamanan”
Bankimun, selaku ketua umum PBB menyatakan bahwasanya wanita memiliki potensi dan peluang untuk berpartisipasi terhadap perubahan dunia. Potensi dan peluang tersebut bisa terwujud melalui pendidikan perempuan dan remaja yang mengajak untuk memerangi diskriminasi gender. Bankimun berkata, “Forum perluasan hubungan antar Negara ini akan memusatkan perhatian pada dua poin penting. Poin pertama ialah pentingnya pendidikan lanjutan dan poin kedua adalah pemberantasan buta aksara bagi kaum wanita. Hal ini akan memberikan pengaruh besar yang manfaatnya akan kembali pada individu dan masyarakat. Forum ini memiliki kewajiban untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Upaya penyelesaian masalah-masalah tersebut diantaranya ialah pengadaan sekolah bagi wanita yang masih terbelakang, pembelajaran membaca, menulis, serta berhitung.”
Bankimun menyebutkan bahwasanya ada tiga puluh sembilan juta penduduk dunia yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar pada usia dini. Sepertiga diantaranya berasal dari kaum wanita buta aksara. Hal ini membuktikan adanya fenomena social yang berkaitan dengan diskriminasi terhadap kaum wanita.

Tidak ada komentar: